Ke Baduy Lagi : Jembatan Akar Ditutup Untuk Umum
Langkah Derofa – Lu ke Baduy lagi? Pertanyaan dari beberapa teman lewat DM instagram setelah gue posting story bersama warga Baduy di wilayah Ciboleger.
Tanggal 2 - 3 September 2023 gue kembali lagi ke Baduy untuk ketiga kalinya dan ini catatan perjalanan gue selama disana.
STASIUN TANAH ABANG - STASIUN RANGKAS BITUNG
Trip gue ke Baduy kali ini ditemani Dika yang merupakan teman berlari yang hobby travelling ke berbagai daerah di Indonesia.
Kita sering sharing pengalaman, sharing tentang trip dan dari obrolan tersebut muncul ide “Yuk ke Baduy yuk”
Ini bukan kali pertama kami ke Baduy tapi keinginan untuk maen kesana lagi sangat kuat karna Baduy selalu menarik untuk dikunjungi. Kabar baiknya lagi saat ini di Baduy sedang musim durian.
Dan seperti di trip Baduy sebelumnya, kali ini pun gue masih memakai open trip dari Wuki Travel karna sudah merasakan pelayanan yang baik dari tim mereka.
![]() |
| Bersama Dika di Ciboleger |
![]() |
| Morgan dari Wuki Travel |
Tanggal 2 September 2023 kami sudah berada di stasiun Tanah Abang sebagai titik kumpul atau meeting point peserta trip. Dari stasiun Tanah Abang menuju Rangkas Bitung sekitar 2.5 jam perjalanan, lalu diteruskan dengan elf menuju Ciboleger dengan durasi waktu 1.5 jam.
SUASANA DI CIBOLEGER SANGAT RAMAI
Ciboleger merupakan perbatasan wilayah Baduy dengan luar Baduy dan juga titik awal treking masuk kawasan Baduy.
Suasana di Ciboleger siang itu sangat terik dan ramai, mobil mobil pribadi memenuhi lahan parkir tak ketinggalan rombongan rombongan yang akan masuk ke Baduy juga sangat banyak.
Kami melihat ada banyak warga Baduy yang berada di Ciboleger baik warga Baduy dalam terutama Baduy luar, sangat gampang melihat perbedaan mereka yaitu dari warna dan model pakaian serta kaki mereka memakai sendal atau tidak.
![]() |
| Teman teman Warga Baduy Dalam |
Rombongan kami dijemput oleh Kang Jali, Kang Safri dan teman teman warga Baduy dalam lainnya. Jumlah mereka cukup banyak dan sebagian dari mereka gue kenal karna tahun lalu mereka juga yang mendampingi gue dan tim ke kampung mereka di Cibeo.
Kenapa mereka selalu datang dengan jumlah banyak? karna mereka bisa menjadi porter bagi para peserta trip yang tidak kuat membawa tas nya. Untuk jasa mereka ini cukup dibayar sebesar Rp. 100.000 untuk pulang pergi.
Cara ini menjadi salah satu cara bagi warga Baduy dalam untuk mencari tambahan rejeki dengan menjadi porter.
![]() |
| Bersama Jarta dekat lumbung atau leuit |
Jarta yang merupakan anak kang Jali ternyata ikut juga menjemput kami, dia masih mengenali gue. Jarta sangat imut dan badan nya kecil dibanding anak anak seumuran dia.
TREKING 4-5 JAM MENUJU BADUY DALAM
Untuk masuk ke Baduy dalam kami melewati beberapa kampung Baduy luar terlebih dahulu. Kesempatan untuk berfoto hanya bisa di wilayah Baduy luar karna ketika masuk wilayah Baduy dalam hal itu sudah tidak boleh dilakukan lagi.
![]() |
| Suasana kampung Baduy luar |
![]() |
| Dibelakang adalah Leuit atau lumbung padi |
Kampung pertama yang kami lewati sangat ramai sekali dengan pengunjung, sedikit kurang nyaman karna terlalu ramai.
Ada hal yang menarik perhatian gue dsini yaitu penampakan buah durian dirumah warga dan ada pengunjung sedang menikmati buah beraroma khas tersebut, bikin ngiler aja nih hehe.
Kampung demi kampung kami lewati ditengah cuaca yang sangat terik hingga kami sampai di sebuah kampung bernama kampung Gajebo.
Kampung Gajebo merupakan kampung yang lumayan dikenal di Baduy karna memiliki sebuah jembatan bambu yang panjang dan memiliki view yang indah di sekitar nya. Para pengunjung biasa nya akan berlama lama disini untuk santai sambil berfoto foto.
![]() |
| Kampung Gajebo |
![]() |
| Jembatan bambu di Kampung Gajebo |
Di wilayah Baduy terdapat banyak sekali jembatan tapi yang ada di kampung Gajebo ini paling estetik. Sisi jembatan yang satu terdapat rumah rumah warga sementara sisi lain nya terdapat leuit atau lumbung padi.
DI RUMAH KANG SAFRI BADUY DALAM
Waktu yang kami butuhkan untuk sampai di Baduy dalam sekitar 4-5 jam tepat nya di kampung Cibeo.
Fyi Baduy dalam itu hanya terdiri dari 3 kampung dan tidak pernah bertambah seperti Baduy luar yang terus bertambah karna pertambahan penduduk.
Rombongan kami dibagi dalam tiga rumah dan gue kembali menginap lagi dirumah Kang Safri. Adik ipar kang Safri bernama Juli yang tahun lalu menemani kami dirumah ini sekarang sudah menjadi warga Baduy luar karna menikah dengan warga Baduy luar.
![]() |
| Bersama Kang Safri di Baduy luar |
Menurut kang Safri, salah satu penyebab seseorang keluar dari Baduy dalam karna pernikahan.
Kampung Cibeo sore itu terlihat sangat ramai dengan para pengunjung, sangat berbeda sekali dengan pertama kali kesini yang begitu sepi hanya ada satu rombongan lagi selain kami, dimana saat itu kami begitu menikmati syahdunya dan sepinya suasana kampung tidak seramai sekarang,
Lalu gue, Dika dan beberapa teman lain menuju sungai yang berada di belakang rumah kang Safri untuk mandi, tapi sayang nya karna kemarau panjang membuat volume air sungai menjadi kecil, hal ini juga menjadi keresahan bagi para warga karna hujan yang lama tidak turun membuat tanaman menjadi kering dan hasil panen jadi tidak bagus bahkan gagal.
Dan pada malam itu kang Safri membawakan kami durian untuk dinikmati setelah makan malam, rasanya manis dan harganya murah mulai dari 20ribu rupiah tergantung dari besar kecilnya.
JEMBATAN AKAR SUDAH DITUTUP UNTUK UMUM
Rumah kang Safri dan warga Baduy dalam lainnya berbentuk rumah panggung, tidak ada kamar selain dapur. Kami ramai ramai tidur diruangan luas yang lantainya dari anyaman bambu.
Udara dingin menemani tidur kami, walau sudah membawa selimut sendiri tapi tetap saja dingin nya masih terasa. Kondisi di dalam rumah sangat gelap tidak ada lampu sama sekali, karna lampu minyak yang menjadi penerangan sudah dimatikan menjelang tidur untuk menghindari terjadinya kebakaran.
Pagi harinya kami bangun disambut udara segar kampung Cibeo, tidak ada polusi karna berada di tengah hutan yang ditumbuhi pohon pohon besar.
Dan jika kemarin sore kami mandi di sungai yang airnya kecil, pagi ini kami mandi di sebuah pancuran yang airnya lumayan gede dan juga segar,
Selesai packing dan sarapan, tepat pada pukul 8 pagi kami mulai meninggalkan kampung Cibeo kembali ke Ciboleger. Jika biasanya jalan pulang ini melewati jalur jembatan akar yang terkenal dan jadi ikon dari Baduy itu maka kali ini kami lewat jalur danau.
Hal ini karna himbauan dari pemuka adat yang melarang para pengunjung / open trip untuk melewati jembatan akar lagi dikarenakan adanya pengunjung nakal yang membuka jallur masuk ke Baduy dalam melewati hutan lindung yang jelas jelas dilarang.
Sangat disayangkan kami tidak bisa lewat jembatan akar yang fenomenal itu tapi itu sudah menjadi keputusan dari pemuka adat Baduy yang harus dihormati,
Akibat kemarau panjang dan hampir tiga bulan tidak turun hujan maka tanah yang ada di wilayah Baduy menjadi kering dan retak, debu tebal menemani perjalanan kami.
Dalam perjalanan ini juga kami melihat pembukaan lahan baru untuk penanaman padi huma padi khas Baduy yang tumbuhnya tidak butuh air banyak seperti padi sawah,
![]() |
| Lahan baru yang sedang dibuka |
Danau Ageng atau disebut juga Dangdang Ageng merupakan danau terbesar yang ada di wilayah Baduy. Ternyata menuju Ciboleger lewat danau ini jalurnya sangat jauh dan melelahkan, beberapa kali harus naik turun bukit yang seakan tidak ada habisnya.
Kami sempat berhenti di danau Ageng melihat keindahan danau yang masih asri. selain warga baduy para pengunjung dilarang untuk mandi di danau ini.
![]() |
| Danau Ageng |
Di jalur danau ini hanya ada satu kampung Baduy luar yang kami lewati, dan sepanjang jalur kami melihat banyak sekali pohon durian yang berbuah kecil yang kemungkinan akan panen menjelang akhir tahun.
![]() |
| Kampung Baduy yang kami lewati di jalur Danau |
![]() |
| Bersama Sarmali di Baduy luar |
Oiya kami sempat makan durian juga di jalan yang di jual murah 50rb tapi ukuran nya besar dan rasanya sangat manis,
Setibanya di Ciboleger kami segera mencari kamar mandi untuk mandi dan tentunya BAB yang tidak kami lakukan di Baduy hehe, setelah itu kami makan siang dan segera pulang.
Baru beberapa hari berlalu sepulang dari Baduy, gue dapat pesan dari Dika yang ngajakin lagi ke Baduy tapi tahun depan hehe.


















Comments
Post a Comment