Slamet Sampai Di Slamet ; Atap Jawa Tengah

Langkah Derofa – Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.428 Mdpl masuk dalam “Triple S” Jawa Tengah bersama gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau Jawa.

Setelah menyelesaikan pendakian gunung Sindoro di tahun 2019 dan gunung Sumbing tahun 2020. tersisa gunung Slamet sebagai pelengkap triple S gue.

Dan pada bulan Juli 2022 gue melakukan pendakian ke gunung Slamet untuk menuntaskan pendakian Triple S Jawa Tengah.

Jalur Bambangan di Purbalingga merupakan jalur yang paling aman jika dibanding dengan jalur jalur lain. Jalur Bambangan juga menjadi jalur favorit nya para pendaki, karna alasan itu maka gue memilih jalur Bambangan untuk mendaki atap tertinggi Jawa Tengah.


16 Juli 2022 hari Sabtu, gue bersama rombongan sampai di Bambangan Purbalingga pada pukul 06.30 tepatnya di basecamp Kang Oji. Lokasi basecamp sendiri sudah berada di ketinggian. Dari sini bisa menyaksikan pemandangan gunung gunung yang ada di Jawa tengah walau sedikit tertutup kabut.

Ada beberapa basecamp disini yang merupakan rumah warga dan dijadikan tempat singgah bagi para pendaki. Basecamp Kang Oji cukup luas dan terdiri dari dua lantai, disini pendaki bisa istirahat, packing ulang, mandi dan makan karna di basecamp kang Oji ada warung makan nya.

Pada pukul 10.00 kami memulai pendakian dan sebelum nya foto foto dulu di gerbang pendakian sebagai kenang kenangan. Jalur Bambangan termasuk jalur populer di gunung Slamet terlihat dari banyak nya pendaki yang mendaki dari jalur ini.

Dari gerbang gapura ke pos 1 bayangan kami memilih untuk naik ojek, tarifnya sebesar Rp. 30 ribu dengan jarak 2 kilometer yang ditempuh dalam waktu 10 menit, cukup menghemat waktu dan tenaga.

Jika dibandingkan dengan ojek Sindoro via Kledung dan Sumbing via Garung maka ojek Slamet ini lebih bersahabat walau tetap saja bikin tegang.

Sebagian jalur adalah tanah berlumpur yang habis terkena hujan mengakibatkan jalur menjadi licin. Menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara, terkadang penumpang harus turun karna roda motor suka tergelincir.

Cuaca saat itu sudah mendung, bahkan rintik rintik air sudah mulai jatuh saat kami berada di gapura menunggu ojek,

Dari pos bayangan menuju pos 1 jalurnya sudah menantang, kami melewati beberapa warung dimana para pemiliknya memanggil kami untuk mampir.

Setengah jam diawal pendakian rasanya gak enak banget, mungkin tubuh sedang beradaptasi sehingga rasanya sangat capek dan engap.

Di pertengahan pos 1 tiba tiba hujan turun dengan deras. Kalau boleh request nih ya pasti pengen ketika mendaki gunung itu dikasih cuaca cerah, tapi apa iya harus bawa mba rara sang pawang hujan agar hujan tidak turun haha.

Kami melanjutkan pendakian dengan memakai jas hujan, jalur yang kami lewati semakin menanjak tidak ada ampun ditambah lagi jalur menjadi berlumpur terkena hujan. Tapi itu tidak membuat semangat kami menjadi drop.

Kami makan siang dengan bekal yang kami bawa di pos 3 yang mana saat itu hujan masih turun dengan deras, di pos 3 ini terdapat warung sehingga kami bisa makan sambil berteduh di warung.

Perjalanan kami menuju ke pos 4 tetap masih diguyur hujan, jalur semakin terjal tidak ada bonus dan genangan air hujan memenuhi jalur.  

Setiba nya di pos 4 yang bernama Samaranthu, kami tidak berhenti untuk istirahat. Apa mungkin kami takut dengan cerita mistis yang sering terjadi di pos Samaranthu ini? Hehe.

Di pos Samaranthu terdapat dua pohon besar yang berada di kanan kiri jalur yang di gambarkan sebagai pintu gerbang menuju alam ghaib. Pos 4 ini lumayan terkenal dikalangan pendaki karna ke-mistisan nya, banyak pendaki pernah mengalami hal horor di pos 4 ini.  

Ketika sampai di pos 5 yang juga merupakan camp area hujan sudah tidak turun lagi.


Gunung Slamet via Bambangan memiliki 9 pos pendakian, setiap pos dari pos 1 sampai pos 5 terdapat warung disini pendaki bisa menikmati gorengan dan semangka segar. Dan warung terakhir berada di pos 5, karna setelah itu sudah tidak ada warung lagi.

Batas mendirikan tenda juga sampai pos 5 karna lahan nya cukup luas dan terdapat sebuah shelter yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat,  

Sekitar jam setengah dua belas malam saat suasana lagi hening tidak terdengar suara suara dari pendaki lain, tiba tiba teman setenda bangun dan marah marah ke teman satunya lagi, gue yang saat itu belum tidur pulas cuma bisa mengintip dan bertanya dalam hati apa yang terjadi.

Sudah mikir yang nggak nggak apa dia kesurupan atau kenapa, eh tidak lama kemudian dia tidur lagi, ternyata dia cuma ngigau tapi itu cukup buat kami deg deg an ditengah malam hehe.

Pukul 02.00 kami terbangun oleh alarm dan juga suara suara pendaki yang mulai bersiap siap untuk summit. Seperti biasa ketika di gunung gue selalu tidak bisa tidur dengan pulas, bersyukurnya malam itu suhu tidak terlalu dingin mungkin karna sore hari nya habis diguyur hujan,

Pukul 04.00 subuh kami memulai pendakian ke puncak, wah jalur nya benar benar menguras tenaga. Kami harus melewati 4 pos lagi baru sampai puncak. Dari pos 5 ke pos berikutnya bisa dibilang jarak nya tidak terlalu jauh tapi karna trek nya yang semakin parah tentu membuat kami harus sering beristirahat padahal beban yang kami bawa tidak seberat yang kami bawa dari basecamp.

Kami sering menemui jalur dimana hanya bisa dilewati satu orang saja, jadi ketika melewati jalur ini pasti akan menimbulkan antrian panjang.


Jika sehari sebelum nya kami diguyur hujan saat memulai pendakian dari basecamp maka pagi ini ketika mendaki ke puncak kami dikasih cuaca yang cerah bahkan sampai kami kembali turun ke basecamp tetap dikasih cuaca cerah.  

Kami sampai di pos 9 pada pukul 05.00 dimana keadaan masih gelap, beberapa dari rombongan mengambil waktu sejenak untuk melakukan sholat subuh.

Pos 9 ini merupakan batas vegetasi dan tantangan terberat ada setelah pos 9 ini, kami harus menggapai puncak dengan melewati jalur yang sangat terjal dengan trek pasir kerikil. Disini kesabaran mulai teruji, beberapa kali kaki harus tergelincir, jalur semakin miring membuat kami sering sering duduk istirahat untuk mengumpulkan tenaga.


Puncak sudah dekat dengan mata tapi masih jauh dari kaki. Kami sangat fokus melihat keatas sehingga lupa kalau di belakang kami ada sebuah keindahan. Lautan awan yang sangat menakjubkan membentang sejauh mata memandang. Seketika semangat baru timbul lagi.  

Garis kuning langit juga mulai muncul menandakan matahari sebentar lagi akan terbit, rasa bersyukur tidak henti terucap dari mulut ini. Walau puncak masih jauh tapi berada di posisi sejauh ini sudah sangat bersyukur.


Setelah melewati berbagai rintangan di jalur akhirnya bisa menginjakkan kaki di atap tertinggi Jawa Tengah. “Slamet sampai di Slamet”

Ini adalah pengalaman yang luar biasa bisa berada di tempat ini di gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa. Tadinya sempat ragu dengan diri sendiri tapi akhirnya setelah dijalani ternyata gue BISA.

Dari tempat kami berada kami melihat kawah gunung Slamet dari kejauhan, kawahnya mengeluarkan asap. Beberapa pendaki masih meneruskan perjalanan menuju bibir kawah, tapi kami disini saja itu sudah lebih dari cukup.


Di awal pendakian kami sudah diberi tahu oleh pihak basecamp bahwa batas pendakian gunung Slamet hanya sampai pos 9. Pendaki cukup dihimbau dan tidak dilarang jika melanjukan ke puncak, hanya saja resiko menjadi tanggung jawab pribadi.

Dalam hal ini jika sesuatu terjadi kepada pendaki misalkan kecelakaan, asuransi hanya bisa di klaim jika kejadian itu berada dibawah pos 9, karna jika sudah di area puncak, asuransi sudah tidak berlaku lagi.

Jadi harus berhati hati jika harus mendaki sampai puncak, supaya tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.


Turun dari puncak pastinya lebih cepat di banding naik, tapi resikonya karna jalur yang aduhai dengan pasir kerikil membuat pendaki sering tergelincir dan terpeleset. Dan gue dapat oleh oleh yaitu kuku kaki yang menghitam karna bergesekan dengan sepatu dan rasanya cukup nyeri, hehe.

Oiya ternyata di gunung Slamet ada Edelweis juga, lokasinya ada di antara pos 8 dan pos 9. dan pohon nya tidak terlalu banyak.


Gunung Slamet termasuk dalam gunung berapi aktif di Indonesia, tak jarang gunung Slamet ditutup untuk pendakian karna erupsi. Selain mengandung bahaya gunung Slamet juga menyuguhkan keindahan dengan lautan awan nya yang begitu menakjubkan.

Menginjakkan kaki di atap tertinggi di Jawa Tengah menjadi kebanggaan tersendiri dan jadi kenangan seumur hidup.

Estimasi waktu pendakian versi Basecamp Bambangan :

Basecamp – Pos 1 Pondok Gembirung (2 – 3 Jam)

Pos 1 – Pos 2 Pondok Walang (1.5 – 2 Jam)

Pos 2 – Pos 3 Pondok Cemara (2 – 3 Jam)

Pos 3 – Pos 4 Samaranthu (1 – 1.5 Jam)

Pos 4 – Pos 5 Samhyang Rangkah (30 Menit)

Pos 5 – Pos 6 Samhyang Ketebonan  (30 menit)

Pos 6 – Pos 7 Samhyang Kendit (30 menit)

Pos 7 – Pos 8 Samhyang Jampang (30 menit)

Pos 8 – Pos 9 Pelawangan (30 Menit)

Pos 9 – Puncak (2 – 3 Jam)

 

Comments