Pengalaman Pertama Naik Gunung : Kapok Atau Nagih?
Pendakian pertama akan membuatmu memilih antara kapok atau ketagihan
Dan aku memilih untuk “ketagihan”
Langkah Derofa - Sudah yakin mau naik gunung? Emang kuat nanjak? Yang ada tar nyusahin loh. Gimana kalau sakit, di gunung suhu nya dingin banget. Terus kalau mau BAB gimana caranya?
Berbagai pertanyaan itu seperti menghantui pikiran dan membuat gue merasa insecure untuk naik gunung.
Ini adalah pengalaman pertama gue naik gunung pada tanggal 11 Desember 2016 tepat lima tahun lalu dimana tanggal tersebut merupakan hari gunung internasional.
Awalnya tertarik naik gunung itu karna sering banget melihat foto foto para pendaki gunung yang ada di instagram. Foto mereka sangat keren dengan pemandangan yang begitu indah, ada sunrise, lautan awan dan hamparan pegunungan yang begitu jelas dari ketinggian.
Semuanya begitu menakjubkan, padahal waktu itu gue tidak tahu bahwa untuk melihat semua yang indah itu membutuhkan perjuangan dan effort yang keras, dan itu bukan kaleng kaleng.
"Kita naik gunung untuk menikmati keindahannya
bukan untuk merusaknya"
Pertengahan Oktober 2016 gue dapat info kalau teman gue yang sudah sering naik gunung akan melakukan pendakian di awal bulan Desember. Nah gue menghubungi dia dan menawarkan diri untuk ikut.
Akhirnya gue dimasukkan kedalam grup WA, dimana semua info yang diperlukan untuk pendakian akan dibahas di sana.
Jujur saat itu gue tidak memiliki satupun gear atau peralatan yang dipakai untuk pendakian, namanya juga newbie. Ketika teman teman di grup mulai membahas tentang peralatan yang akan dibawa, gue diam saja karna boro boro untuk peralatan kelompok seperti tenda dan nesting, untuk keperluan pribadi saja tidak punya hehe.
Walaupun teman teman grup yang saat itu rata rata sudah pernah naik gunung memaklumi keadaan gue yang tidak berkontribusi terhadap peralatan kelompok tapi untuk keperluan pribadi harus dilengkapi sendiri.
Matras, sleping bag, keril, jacket dan sepatu gunung, beberapa peralatan penting untuk mendaki gunung yang harus gue lengkapi. Belum lagi dengan headlamp, sarung tangan, kupluk dan peralatan lainnya yang bikin kepala gue pusing, kok begini amat ya naik gunung repot banget padahal cuma sehari doang.
Gimana gak bikin pusing, satupun dari peralatan itu gue tidak punya. Mau minjam sama teman gak ada yang bisa bantu, ya sudah dicicil satu persatu dengan cara membeli.
Waktu itu gue mengajak seorang “teman” yang juga belum pernah mendaki gunung sebelumnya, jadi kami berdua saling men support satu sama lain sesama newbie.
Langkah awal persiapan untuk mendaki yaitu melengkapi peralatan yang di share di grup. Mulai mencari jacket dan sendal gunung di toko toko outdoor, sedangkan matras dan sleeping bag nantinya akan rental saja.
Selain men-japri teman yang sudah sering naik gunung bertanya tentang dunia pendakian, gue juga mencari informasi di google serta menonton youtube yang membuat gue mendapat banyak ilmu tentang dunia pendakian.
Gue mencari informasi tentang gunung yang akan kami daki, jalur pendakian nya seperti apa, waktu mendaki berapa lama dan sebagainya.
Dibalik keindahan sebuah gunung ternyata menyimpan banyak bahaya yang mengintai para pendaki sebut saja hipotermia, hal berbau mistis bahkan pendaki tersesat. Beberapa Hal ini sedikit banyak membuat semangat gue drop, namanya juga di alam bebas semua hal bisa terjadi disana.
Tapi perkataan teman yang bilang kalau digunung dia banyak bertemu dengan pendaki cilik atau pendaki berusia lanjut yang bisa sampai puncak, membuat semangat gue bangkit lagi gue pasti bisa seperti mereka.
Persiapan gue lainnya adalah latihan fisik dengan rutin jogging dan istirahat yang cukup bahkan seminggu sebelum pendakian gue melatih diri untuk tidur dibawah jam 10 malam. Padahal kebiasaan gue tidak pernah tidur secepat itu karna sibuk bermain handphone, sedetail itu dan sesemangat itu gue mempersiapkan diri untuk mendaki gunung.
Mendekati hari H pendakian keraguan gue muncul kembali bahkan sampai kebawa mimpi saking kepikiran terus. Gue hampir mengundurkan diri karna merasa tidak akan sanggup tapi karna support dari pasangan yang saat itu ikut naik gunung juga akhirnya kami memantapkan hati untuk LANJUT.
Gunung Prau yang berketinggian 2,565 meter diatas permukaan laut dan berada di Dieng Wonosobo Jawa Tengah adalah gunung yang akan kami daki.
Buat sebagian pendaki gunung ini tidak terlalu tinggi, tapi bagi gue yang belum pernah mendaki gunung tetap saja membayangkan hal berat saat mendakinya.
Berangkat dari rumah menuju stasiun sudah mengenakan jacket karna tas yang gue bawa cuma backpack bukan keril seperti para pendaki pada umumnya, jadi beberapa barang di press sedemikian rupa sehingga bisa memuat banyak barang. Tentunya jadi dilema juga saat melakukan packing, tas kecil sedangkan barang bawaan banyak jadi harus melakukan sortir beberapa kali.
Saat di kereta, penumpang yang duduk di depan kami seorang wanita muda bercerita kalau dulu pernah mendaki gunung Prau dan dia menceritakan pengalaman tidak enaknya selama digunung tersebut, wah belum apa apa sudah kena mental.
Berada di kaki gunung Prau, masih belum ada bayangan pendakian gunung Prau nanti seperti apa dan bagaimana. Apalagi saat itu kami memulai pendakian pada jam dua pagi dimana masih sangat gelap tidak bisa melihat apa apa.
Dibilang tegang sudah pasti ditambah lagi udara dingin, tapi beberapa teman mencairkan suasana dengan bersenda gurau dan selalu memberi semangat.
Namanya newbie pasti perlengkapan yang dibawa tidak sekeren pendaki pendaki senior. Saat itu masih ingat celana yang gue pakai untuk mendaki adalah celana berbahan tebal yang merupakan setelan celana jas hujan, selain berat pasti juga ribet. Belum lagi sleping bag yang diikat ditas karna bahannya tebal gede dan disaat teman teman memakai headlamp gue malah membawa senter, hahah dasar aku.
Tapi pendakian saat itu begitu menyenangkan benar benar fun, walau capek pegal dan dingin tapi gue tetap menikmatinya. Mendapat pengalaman baru dan teman teman baru.
Tapi ekspektasi gue waktu itu yang ingin melihat sunrise yang cantik, lautan awan, penampakan gunung Sindoro Sumbing semua gagal, karna kabut menyelimuti gunung Prau dari kami datang sampai kembali turun.
Waktu itu sedikit kecewa, tapi mau gimana lagi waktu itu bulan Desember sudah memasuki musim hujan sehingga cuaca tidak bagus dan satu lagi cuaca di gunung tidak bisa ditebak karna suka berubah ubah.
Begitulah pengalaman pertama gue naik gunung yang pada akhirnya pendakian pertama itu membawa gue pada satu keputusan tidak kapok dan malah ketagihan. Akhirnya gue punya hobby baru yaitu mendaki gunung.


Comments
Post a Comment